![]() |
| Ilustrasi Sangkuriang. Sumber Wikipedia |
Apabila kita berjalan dari kota subang ke arah bandung maka di perbatasan bandung subang anda akan melihat sebuah gunung namanya Gunung Tangkuban parahu, nama itu melegenda dari masa ke masa, memang gunung itu mirif sekali dengan perahu yang telungkup. Tangkuban Parahu artinya Perahu yang telungkup.
Gunung itu tidak bisa di
pisahkan dengan cerita LEGENDA SUNDA Sangkuriang, konon pada jaman
dahulu kala, di kahyangan, sepasang dewa dan dewi melakukan suatu
kesalahan, maka di kutuklah sepasang dewa dan dewi itu menjadi seekor
celeng dan seekor anjing, celeng bernama wayung hyang dan anjing bernama
si tumang. SEpasang celeng dan anjing tersebut di usir ke bumi untuk
mensucikan diri dan melakukan pertapaan karena sudah melakukan
kesalahan. (Pen, hehehehe kata kake saya Pen itu tunda dulu sang
dewa-dewi yang sudah jadi binatang yang sedang bertapa)
Kita ceritakan seorang
raja yang sedang melakukan perburuan, mungkin kebelet pengen pipis,
akhirnya sang raja pipis, di atas batok kelapa atau dalam cerita lain di
atas daun keladi, sang raja kemudian melakukan perburuan lagi.
Diceritakan sang dewi
yang berubah menjadi celeng dan sedang melakukan pertapaan tiba-tiba
kehausan dan ingin minum (tapa ko minum hehehe), kemudian dia berjalan
mondar-mandir mencari air dan ketemulah dengan air kemih sang raja di
atas batok kelapa, maka diminumlah oleh sang celeng tersebut. Hari
berganti hari tiba-tiba sang celeng terseu tiba-tiba hamiloleh air
kencing sang raja dan melahirkan seorang bayi cantik, mengapa celeng
melahirkan bayi manusia?, karena pada dasarnya Gen sang celeng adalah
manusia, maka wajar melahirkan seorang manusia.
Pada waktu sang raja
sungging perbangkara pada suatu kesempatan melakukan perbuaruan lagi
maka ketemulah dengan bayi mungil nan cantik tersebut, kemudian bayi
tersebut di bawa kerumah sang raja dan di namai Dayang Sumbi atau
Rarasati.
Dayang Sumbi tumbuh
menjadi gadis cantik nan elok, banyak para pemuda pada waktu naksir dan
caper (cari perhatian) kalau di depan dayang sumbi, termasuk kelas-kelas
elit atau raja-raja tetangga pada waktu pada melamar Dayang Sumbi, tapi
dayang sumbi tidak menerima satupun lamaran dari pemuda-pemuda atau
para raja atau anak raja yang melamar. Dayang Sumbi jadi rebutan dan
semua raja ingin memiliki dayang sumbi akhirnya terjadilah perang
memperebutkan Dayang Sumbi)
Pada saat peperangan
tersebut, dayang sumbi minta di asingkan ke hutan di temani oleh seekor
anjing jelmaan dewa dari kahyangan namanya si tumang. Tidak di ceritakan
ko sang jelmaan dewa alias si tumang ko bisa nongkrong di keraton yah
hehehehe.
Pada saat di pengasingan
atau di hutan kebiasaan menenun tetap di kerjakan, ciri khas wnita jaman
dahulu, kemudian secara tidak di sangka-sangka alat penenunnya jatuh ke
bawah rumah (Rumah di hutan basanya di buat panggung untuk menghindari
binatang buas masuk ke dalam rumah). Dayang Sumbi malas mengambil dan
secara tidak disengaja kemudian berkata,"lamun anu nyandak alat tenun
istri bakal di jadikeun dulur, lamun nu nyandak alat tenun lalaki bakal
di jadikeun salaki" artinya "kalau yang ngambil perempuan akan di
jadikan saudara dan kalau yang ngambil laki-laki akan di jadikan suami",
perkataan itu di dengar sang dewa yang ada di langit sana ( makanya
jangan ceroboh kalau berbicara, karena mulutmu adalah harimaumu
hehehehehe).
Setelah berapa lama tidak
di sangka-sangka yang membawa alat tenun tersebut adalah si tumang,
Dayang Sumbi tercengang, tapi mau apa di kata karena perkataa sudah
keluar dari mulut istilah sunda "Ciduh teu bisa di lamot deui". Tapi
karena si tumang juga bukan anjing sembarangan, dia bisa menjelma
menjadi manusia biasa tatkala bulan purnama, maka terjadilah hubungan
layaknya suami istri antara Dayang Sumbi dan si Tumang dan melahirkan
seorang anak yang namanya Sangkuriang.
Sangkuriang di latih
berburu oleh pegawai kerajaan yang sesekali menengok dayang sumbi di
hutan, sampai sangkuriang mahir berburu dan mahir menggunakan alat
berburu.
Pada suatu ketika Dayang
Sumbi mengidamkan hati menjangan maka di suruhlah Sangkuriang untuk
berburu di temani pegawai kerajaan dan si tumang, tapi secara tiba-tiba
pada saat itu menjangan tidak ada sama sekali, tapi secara tiba-tiba ada
seekor babi hutan gemuk yang melarikan diri, Sangkuriang menyuruh si
tumang untuk mengejarnya, si tumang tidak menurut karena si tumang tau
celeng itu adalah neneknya sangkuriang (ibunya Dayang Sumbi),
Sangkuriang menakut-nakuti si tumang dengan panah, sampai akhirnya panah
tersebut secara tidak sengaja terlepas dari jamparing dan membunuh si
tumang.
Sangkuriang pulang karena
takut di marahi ga dapat hati menjangan akhirnya hati si tumang di
bawanya dan di serahkan kepada ibunya, ibunya bahagia sesaat sampai
akhirnya dia tahu bahwa hati itu adatah hati si tumang karena si tumang
tidak ikut pulang dengan sangkuriang, Sangkuriang dimarahin dan di pukul
kepalannya sampai berdarah, sampai pada akhirnya Sangkuriang di usir
oleh ibunya.
Sangkuriang pergi ke arah
timur dan terus ke timur menyusul arah terbitnya matahari,
Sangkuriangpun berguru kepada orang-orang yang ketemu dalam perjalannya
sehingga sangkuriang menjadi pemuda yang sakti dan pilih tanding,
setelah sekian lama berjalan ke arah timur maka pada akhirnya
Sangkuriang sampai di arah barat rumah Dayang sumbi atau rumah
Sangkuriang pada jaman dulu.
Sangkuriang dan dayang
sumbi ketemu lagi dengan tidak mengenal satu sama lain, akhirnya mereka
memadu kasih, sampai akhirnya Dayang Sumbi tau bahwa Sangkuriang itu
adalah anaknya dengan melihat tanda di kepala bekas pukulan pada waktu
anak-anak dulu. Dayang Sumbi menolak untuk menjadi istri sangkuriang,
tapi Sangkuriang tetap Dayang Sumbi harus jadi istrinya.
Maka Dayang Sumbi
memberikan syarat kepada Sangkuriang agar di buatkan Perahu, dan
membendung sungai citarum untuk di jadikan danau, Sangkuriang
menyanggupinya.
Maka dibuatlah perahu dari sebuah pohon yang tumbuh di arah timur,
tunggul/pokok pohon itu berubah menjadi gunung Bukit Tanggul. Rantingnya
ditumpukkan di sebelah barat dan menjadi Gunung Burangrang. Dengan
bantuan para guriang (makhluk halus), bendungan pun hampir selesai
dikerjakan. Tetapi Dayang Sumbi memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar
niat Sangkuriang tidak terlaksana. Dayang Sumbi menebarkan helai kain boeh rarang
(kain putih hasil tenunannya), maka kain putih itu bercahaya bagai
fajar yang merekah di ufuk timur. Para guriang makhluk halus anak buah
Sangkuriang ketakutan karena mengira hari mulai pagi, maka merekapun
lari menghilang bersembunyi di dalam tanah. Karena gagal memenuhi syarat
Dayang Sumbi, Sangkuriang menjadi gusar dan mengamuk. Di puncak
kemarahannya, bendungan yang berada di Sanghyang Tikoro dijebolnya,
sumbat aliran sungai Citarum dilemparkannya ke arah timur dan menjelma
menjadi Gunung Manglayang.
Air Talaga Bandung pun menjadi surut kembali. Perahu yang dikerjakan
dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berubah wujud
menjadi Gunung Tangkuban Perahu.
Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang lari menghindari kejaran
anaknya yang telah kehilangan akal sehatnya itu. Dayang Sumbi hampir
tertangkap oleh Sangkuriang di Gunung Putri
dan ia pun memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar menyelamatkannya,
maka Dayang Sumbi pun berubah menjadi setangkai bunga jaksi. Adapun
Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung
berung akhirnya menghilang ke alam gaib (ngahiyang).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar